Kapal ini dibangun bukan oleh kita.
Kaptennya sudah berkali2 ganti.
Tujuan pelayaran mencari pulau yg adil dan makmur.
Nakhoda pertamanya bilang ‘sekali merdeka tetap merdeka’.
Nakhoda kedua bilangnya ‘gemah ripah loh jinawi’.
Setelah itu, Nakhoda dipimpin oleh orang2 yg tidak kompeten.
Nakhoda ketiganya tukang insinyur, mekanik mesin kapal
yg terpaksa menjadi Nakhoda karena keadaan.
Nakhoda keempat orang buta. Tapi sejak Nakhoda sebelumnyapun
kapal sudah dipimpin orang buta. Kapal berlayar ber-putar2 tanpa
arah. Demikian juga dengan Nakhoda kelima, nakhoda yg ditunggangi
banyak orang. Ditunjuk jadi Nakhoda karena keberhasilannya menjual
tulang belulang bapaknya.
Nakhoda ke-enam cukup bisa meredakan geliat kelaparan penumpang,
meskipun sebenarnya tak ada yg signifikan. Kebocoran lambung kapal
akibat menabrak karang oleh para Nakhoda terdahulu yg tak cakap
sungguh peninggalan yg tak menyenangkan. Belum lagi tambahan kerusakan
mesin dan rusaknya layar diterjang badai.
Hari ini, penumpang bikin pesta untuk membiayai pemilihan awak kapal.
Biaya yg tak sedikit. Para penumpang sibuk memajang foto2nya di geladak kapal.
“toh biaya cetak foto dan frame segede layar bakalan bisa balik modal
kalau nanti bisa jadi awak/crue Kapal”, pikir para calon awak tadi.
Sedemikian besarnya ambisi para calon awak kapal itu untuk bisa terpilih.
Mengapa? Karena mereka tak perlu lagi memancing ikan di laut.
Awak kapal adalah penguasa kapal. Penumpang wajib setor sebagian ikan yg
didapat. Awak kapal dapat bagian. Itulah enaknya awak. Mangkenye pade
rebutan. Kalu kagak, mane die orang pade bela2in nyetak poto segede layar
biar pade kepilih.
Begitulah kisah kapal orang2 bar2 di negeri antah berantah.
Berbeda dengan kisah kapal2 yg dibangun diatas gunung.
Nakhodnya dibilang orgil. Kenapa orgil?
Karena bikin kapal bukan dilaut, tapi diatas gunung.
Kapal ini bukan kapal biasa. Besarnya luar biasa.
Berisi berbagai jenis bangsa dan golongan.
Golongan banteng, masuk.
Bangsa gajah, bangsa yg besar, masuk.
Bangsa unta, para penghuni padang pasir, masuk.
Bangsa burung elang, lambang mesopotamia, masuk.
Jenis ular, golongan manusia2 munafik yg sebenarnya licik, juga ikut.
Alkisah, Kapal ini dibangun oleh orang2 yg bisa melihat masa depan.
Sebuah nubuah masa depan dibacakan oleh sang pemimpin,
orang yg akan menjadi Nakhoda kapal Greenpeace itu;
Bahwa air sungai tak lagi bersih, tak lagi dapat dipakai.
Bahwa air hujan tak lagi ditampung orang, tak lagi diharapkan orang.
Sesuatu yg dari langit tak lagi dihormati dan dihargai, apalagi dijadikan
dasar petunjuk dan implementasi kehidupan.
Orang lebih senang suatu yg dari bumi.
Pompa ledeng buatan sendiri. Sumur bor buatan sendiri.
Buatan sendiri yg diyakini mampu memecahkan persoalan.
Yang dari langit, hanya buat khayalan dan sesembahan.
Meski air hujan itu datang banyak sekali,
namun orang tak kan menampungnya, meskipun turun tak henti2nya.
Dan air itupun hanya menjadikannya musibah. Meskipun berkelimpahan
air bersih, air yg tak tercemar, air dari langit, tetap saja mereka tak mau
mendengar seruan untuk menampung dan memanfaatkannya.
Bahwa kelak air itu akan menenggelamkan penduduk karena tak
dimanfaatkan. Pada gilirannya sampah dan kotoran yg dibuang penduduk
bukan lagi hanya sebuah pencemaran, melainkan sudah parah,
menjadikannya musibah, bahkan bencana, yakni banjir bandang yg luar biasa.
Tsunami yg akan menenggelamkan peradaban.
Kapal Barbarian yg melaut berputar2 tanpa arah tak kan pernah bertemu
dengan kapal Greenpeace sebelum waktunya.
Kapal Barbarian akan terombang ambing oleh gelombang Tsunami itu.
Demikian juga dengan kapal2 lain yg ada dilautan luas.
Kapal Greenpeace yg dibangun oleh Nakhoda nekat,
Ia tak kan terkena gelombang Tsunami. Karena ia dibangun diatas gunung.
Awak kapal itu akan senantiasa sehat berkat makanan yg sehat dari gunung
dan ‘air yg jernih dari hulu sungai’. Orang2nya rajin. Bukan rajin memberikan
pujian kepada Nakhoda. Bukan juga pujian kepada yg meciptakan gunung
atau lautan. Bukan juga rajin ‘menyanyikan bait2 peraturan pembuatan kapal’.
Melainkan rajin bekerja membuat kapal. Pengabdian kepada Pencipta
Gunung dan lautan adalah dengan disiplin mengikuti peraturan pembuatan
Kapal, bukan menyanyikannya se-merdu2nya.
Nakhoda maupun awak bisa IQRO’, bisa membaca keadaan, dan memprediksi
apa yg akan terjadi. Bahwa akibat kesombongan manusia membuat peraturan
sendiri, membuat kapal sendiri, hidup tak berkwalitas, kumuh-jorok dan tak mau
mendengar untuk menampung air hujan, maka mekanisme alamnya adalah
Tsunami. Musibah yg luar biasa, yg akan menenggelamkan peradaban mereka.
Sepanjang sejarah peradaban manusia, Tsunami itu sudah berkali2 datang.
Menghancurkan peradaban yg dibuat atas dasar peraturan buatan manusia.
Demikian juga dengan Kapal Greenpeace, sudah berkali2 dibuat,
Untuk menggantikan peradaban hidup kumuh-jorok, hidup tak berkwalitas,
Hidup mistik, dan hidup berlayar berputar2 tanpa kemajuan seperti pelayaran
Kapal Barbarian.
Dan ketika air telah mencapai puncak gunung, tempat dimana kapal Greenpeace
Dibuat, Kapal akan berlayar mengarungi lautan luas. Kapal Greeanpeace akan
berpapasan dengan kapal2 barbarian. Pertemuan itu akan menjadi hubungan
diplomatik pada awalnya. Kemudian sebuah kompromi politik, hubungan dagang,
yang kemudian pada gilirannya penumpang kapal2 barbarian tak tahan untuk
tetap berada di kapal barbarian yg kecil, tidak stabil dan kumuh-jorok.
Kapal Greenpeace yg begitu besar anggun dan menawan akan terlihat berwibawa
didepan kapal2 Barbarian, padahal dahulunya kapal barbarianlah yg berkilau
sebelum orang melihat Kapal Greenpeace.
Beberapa sekoci pelarian penumpang kapal2 barbar akan berdatangan.
Bahkan beberapa kapal Barbar memberikan tanda, penumpangnya mengibaskan
bendera permintaan tolong. Nakhoda mengeluarkan teropong dan melihat
melalui teropong kondisi yg mengenaskan dari penumpangnya karena tertindas
oleh awaknya. Kapal Greenpeace pun berlayar mendekat, merapat, dan
membebaskan para penumpangnya dari penindasan awak kapal barbar.
Demikian sejarah kapal2 yg berlayar didunia. Sejarah ini juga Nubuah, karena
perjalanan kehidupan kapal2 akan selalu sama, dari masa ke masa, tak akan ada
yg berubah. Kapal Greenpeacepun akan tenggelam setelah 7 ABAD lamanya.
Karena setiap kapal, akan selalu ada batas umurnya.
Salam Japri
ACA
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar